Teror Lalat Buah, Petani Jambu di Banyuwangi Hadapi Ancaman Kehilangan Panen

  • Bagikan
Buah jambu. (Doc,Foto: Rony Subhan)

BANYUWANGI,MediaBanyuwangi.com – Di bawah rindang pepohonan jambu, ancaman kecil namun mematikan merajalela. Lalat buah, serangga mungil dengan dampak luar biasa, kini menjadi momok bagi petani di seluruh Banyuwangi.

Tidak peduli seberapa besar usaha yang dikerahkan, sejak bunga jambu mulai mekar, hama ini sudah menebar ancaman dengan kemampuan reproduksinya yang luar biasa.

Di pekarangan rumah hingga perkebunan luas, skenario tragis terus berulang. Betina lalat buah dengan terampil menyusup, meletakkan telur-telur di bakal buah yang segar.

Dalam hitungan hari, larva-larva yang menetas dari telur tersebut mulai merusak daging buah dari dalam. Hasilnya, buah yang seharusnya menjadi berkah panen malah gugur sebelum waktunya, busuk, tak layak jual, bahkan tak layak konsumsi.

Solikin, warga Desa Purwoharjo, harus menerima kenyataan pahit ini. “Ada lima pohon jambu di pekarangan rumah. Semuanya habis, tak bisa dipanen,” keluhnya.

Menurutnya, perawatan ekstra seperti pembungkusan buah atau krodong sudah menjadi keharusan. “Kalau yang di sawah, malah harus lebih intens. Kalau nggak, habis semua,” tambahnya.

Ancaman ini nyata. Berdasarkan penelitian Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Cluring, lalat buah dapat menyebabkan kerugian panen hingga 70 persen jika tidak segera ditangani.

Para ahli pertanian merekomendasikan penggunaan perangkap feromon, pembungkusan buah, dan bahkan pengendalian biologis menggunakan predator alami sebagai langkah-langkah pengendalian.

Selain itu, ada metode lain yang bisa dilakukan petani. Penggunaan perangkap seperti Petro G Nol, yang ditempatkan sekitar 4 meter dari lahan, dianggap efektif.

Begitu pula dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif triazofos atau sipermetrin pada buah secara rutin. Namun, langkah-langkah ini membutuhkan konsistensi dan pengetahuan yang memadai agar hasilnya maksimal.

Musim panen jambu seharusnya menjadi momen bahagia bagi petani di Banyuwangi, saat jerih payah selama berbulan-bulan akhirnya terbayar. Namun, ancaman lalat buah mengubah harapan itu menjadi mimpi buruk. Jika tidak ada upaya pengendalian hama yang terkoordinasi dengan baik, musim panen hanya akan meninggalkan kekecewaan mendalam.

Meski begitu, asa belum sepenuhnya hilang. Dengan edukasi yang baik, kerjasama antarpetani, dan penerapan metode pengendalian yang tepat, harapan untuk kembali menikmati buah jambu yang segar dan manis tetap ada. Semangat petani Banyuwangi untuk melawan ancaman ini menjadi bukti bahwa perjuangan mereka belum usai. (Jm//MB)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Default Width dan Height di Tag Marquee