Rujak Pace: Dari Makanan Tradisional Suku Osing Jadi Tren Kuliner Kesehatan

  • Bagikan
Rujak mengkudu (rujak pace). (Foto : doc Roni Subhan)

BANYUWANGI,MediaBanyuwangi.com – Rujak pace, atau mengkudu, mungkin tidak terdengar asing bagi masyarakat suku Osing di Banyuwangi. Namun, belakangan ini, kuliner tradisional tersebut mulai menarik perhatian di luar lingkup budaya Osing karena manfaat kesehatannya. Bahkan, makanan yang dulunya dianggap sederhana ini, kini menjadi tren di kalangan pecinta kuliner sehat.

Cerita ini berawal ketika Herman, seorang pria dari suku Jawa yang tinggal di Dusun Krajan, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, mendengar desas-desus tentang rujak pace yang dikatakan tidak hanya nikmat, tetapi juga berkhasiat sebagai obat.

Berbekal rasa penasaran, Herman memutuskan untuk mencoba membuatnya dengan bantuan istrinya dan dibimbing oleh Jumirin, seorang tetangga dari suku Osing yang sudah mahir dalam mengolah rujak pace.

“Saya sering dengar tentang rujak pace dari teman-teman suku Osing, katanya selain enak juga bagus untuk kesehatan. Jadi saya ingin coba,” ujar Herman.

Di rumahnya, Herman mengundang beberapa teman, termasuk warga suku Osing. Ide untuk membuat rujak pace muncul dari salah satu rekannya, dan suasana pun menjadi lebih akrab ketika mereka bersama-sama mencoba hidangan tradisional tersebut. Meski awalnya ragu, Herman mengakui bahwa rasanya memang unik dan sedikit asing di lidah, tetapi ternyata nikmat.

“Saya baru pertama kali coba. Awalnya memang rasanya aneh, tapi lama-lama enak juga,” katanya sambil tertawa.

Proses pembuatan rujak pace sendiri tidak terlalu rumit. Menurut Jumirin, buah pace yang digunakan sebaiknya tidak terlalu matang, tetapi sudah mulai menguning. Setelah dikupas dan dipotong dadu, buah tersebut dicampur dengan bumbu tradisional seperti gula merah, asam jawa, terasi, cabai rawit, dan garam, kemudian diulek hingga halus. Bumbu rujak ini bisa ditambahkan sedikit air atau cuka untuk menyesuaikan selera.

Meski buah mengkudu terkenal karena aromanya yang menyengat dan rasa yang kuat, ternyata ia menyimpan berbagai manfaat kesehatan.

Bactiar, seorang guru yang juga gemar mempelajari manfaat tanaman herbal, menjelaskan bahwa mengkudu mengandung senyawa aktif yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh, berfungsi sebagai antioksidan, dan membantu menurunkan tekanan darah.

“Selain itu, mengkudu juga bagus untuk pencernaan karena kaya serat, dan memiliki sifat antibakteri yang bisa melawan infeksi,” ungkap Baktiar.

Namun, ia juga mengingatkan agar penggunaannya tidak berlebihan dan tetap dalam takaran yang wajar.

Tren mengolah buah-buahan lokal seperti mengkudu menjadi makanan kesehatan tradisional kini mulai diminati, terutama di tengah gencarnya kampanye gaya hidup sehat.

Rujak pace, yang dulunya hanya dikenal di kalangan masyarakat suku Osing, kini menjadi salah satu ikon kuliner Banyuwangi yang memadukan tradisi dan kesehatan.

Melalui hidangan sederhana ini, masyarakat Banyuwangi menunjukkan bahwa kekayaan alam lokal dapat diolah menjadi sajian yang tidak hanya lezat tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan.

Rujak pace kini bukan sekadar kuliner tradisional, tetapi juga simbol dari bagaimana tradisi dapat terus hidup dan relevan di era modern. (Jk//MB)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Default Width dan Height di Tag Marquee