SELASA, 28 SEPTEMBER 2021

BPOM Pastikan Produk Makerel Layak Konsumsi

MEDIABANYUWANGI.COM- Badan pengawas obat dan makan (BPOM), pantau proses pengolahan produk makarel dan pengalengan ikan di PT Pacific Harvest di Desa Kedungringin, Kecamatan Muncar, kemarin (13/4). BPOM Pastikan produk makarel tidak berbahaya dan dapat kembali di produksi kembali. Dalam kunjungan kerja itu, BPOM Pusat bersama kementrian kelautan  dan perikanan, beserta beberada anggota BPOM turun langsung untuk memantau proses pengalengan ikan. “Kita datang untuk melihat proses yang dilakukan oleh CV Pacific Harvest,” ujar Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito. Penny mengatakan, bahwa produk makarel yang mengandung parasit cacing itu tidak berbahaya. Dari hasil pantauan di CV Pacific Harvest, proses yang dilakukan sudah sesuai dengan SIP produksi. “Masyarakat tidak usah kawatir terhadap ikan dalam kaleng,” katanya. Penny mengimbau kepada masyarakat agar tidak perlu kawatir dengan temuan BPOM yang waktu itu. Karena parasit cacing tersebut tidak berbahaya dan dapat dikonsumsi. Sehingga, pelaku usaha dan masyarakat bisa bekerja kembali. “Produksi makarel sudah mulai berjalan kembali,” cetusnya. Temuan BPOM itu, juga sebagai bahan pembelajaran bagi pelaku usaha. Agar meningkatkan mutu dan kualitasnya. Sehingga, kedepan tidak ditemukan kembali kasus yang sama. “Ini bahan pelajaran, agar bisa dikaji ulang,” tegasnya. Untuk produk makarel yang harus ditarik oleh pelaku usaha itu, dilihat dari nomor seri produk makarel. Sehingga, produk yang ditarik tersebut akan dilakukan pemusnahan. “Produk yang ditarik itu akan dimusnakan oleh pelaku usaha,” ungkapnya. Penny menambahkan, pelaku usaha dan BPOM akan terus bekerjasama untuk meningkatkan mutu dan kualitas kedepannya. Apalagi, ikan yang digunakan untuk produk makarel dan sarden itu memiliki protein yang sangat tinggi. “Ikan itu memang sangat bagus dan bermanfaat bagi perkembangan gizi dalam tubuh,” jelasnya. Sementara itu, manager marketing CV Pacific Harvest, Sherly mengaku dengan adanya kasus penemuan dari BPOM itu membuat penurunan jual yang sangat signifikan. “Sangat menurun, sehingga banyak karyawan yang dirumahkan,” katanya. Untuk bahan itu sendiri, lanjutnya, dari ekspor dan impor. Bahkan mengambil dari berbagai Negara di luar Negeri. Sehingga, tidak bisa dipastikan produk bahan dari mana yang mengandung parasit cacing itu. “Saya tidak bisa pastikan kalau itu,” cetusnya. Sherly menambahkan, bahwasannya CV Pacific Harvest ini sudah melakukan ekspor dan impor sebanyak kurang lebihnya 58 Negara untuk sarden dan makarel. Memang dari penemuan BPOM itu, mengandung parasit cacing. Namun, itu karena factor alam dan meningkatnya populasi parasit cacing sendiri.  Murni factor alam dan itu jika tidak sengaja dikonsumsi tidak berbahaya,” ungkapnya. Ketua Asosisi Pengalengan Ikan Indonesia (APIKI), Ardy Surya mengatakan, dari 28 perusahaan se-Indonesia memang memproduksi makarel dan pengalengan ikan. Namun, tidak semua produk makarel yang mengandung parasit cacing. Pihak BPOM juga sudah melakukan pemantauan langsung kepada 28 perusahaan tersebut. “Semua perusahaan sudah dilakukan pemantauan secara langsung,” katanya. Pada tahun 2017, lanjutnya, sekitar 80 persen bahan ikan yang digunakan diambil dari luar. Sarden 40.000 ton, sedangkan kapasitas peratahun sekitar 235.000 ton pertahun dari 28 perusahaan seIndonesia. “Ini sudah sangat menurun pada tahun 2017,” ungkapnya. Karena dari lautan selat bali ikan menghilang. Karena itu sudah faktor alam. Jika saja di laut bali, sudah mulai muncul ikan pastinya membuat lebih mudah. “Jadi tidak bisa kita pastikan karena bahan yang diambil itu sesuai dengan musim,” cetusnya. Ardy menambahkan, untuk standart ikan pengalengan proses itu sudah sangat steril. Karena proses dan prosedur yang dilakukan sudah sesuai SOP. Walaupun ada parasit cacing itu pasti sudah mati. “Proses yang dilakukan sudah sesuai SOP, jadi jikapun ada parasit cacaing itu akan mati. Sehingga tidak bahaya jika dikonsumsi oleh masyarakat,” ungkapnya.- Badan pengawas obat dan makan (BPOM), pantau proses pengolahan produk makarel dan pengalengan ikan di PT Pacific Harvest di Desa Kedungringin, Kecamatan Muncar, kemarin (13/4). BPOM Pastikan produk makarel tidak berbahaya dan dapat kembali di produksi kembali. Dalam kunjungan kerja itu, BPOM Pusat bersama kementrian kelautan  dan perikanan, beserta beberada anggota BPOM turun langsung untuk memantau proses pengalengan ikan. “Kita datang untuk melihat proses yang dilakukan oleh CV Pacific Harvest,” ujar Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito. Penny mengatakan, bahwa produk makarel yang mengandung parasit cacing itu tidak berbahaya. Dari hasil pantauan di CV Pacific Harvest, proses yang dilakukan sudah sesuai dengan SIP produksi. “Masyarakat tidak usah kawatir terhadap ikan dalam kaleng,” katanya. Penny mengimbau kepada masyarakat agar tidak perlu kawatir dengan temuan BPOM yang waktu itu. Karena parasit cacing tersebut tidak berbahaya dan dapat dikonsumsi. Sehingga, pelaku usaha dan masyarakat bisa bekerja kembali. “Produksi makarel sudah mulai berjalan kembali,” cetusnya. Temuan BPOM itu, juga sebagai bahan pembelajaran bagi pelaku usaha. Agar meningkatkan mutu dan kualitasnya. Sehingga, kedepan tidak ditemukan kembali kasus yang sama. “Ini bahan pelajaran, agar bisa dikaji ulang,” tegasnya. Untuk produk makarel yang harus ditarik oleh pelaku usaha itu, dilihat dari nomor seri produk makarel. Sehingga, produk yang ditarik tersebut akan dilakukan pemusnahan. “Produk yang ditarik itu akan dimusnakan oleh pelaku usaha,” ungkapnya. Penny menambahkan, pelaku usaha dan BPOM akan terus bekerjasama untuk meningkatkan mutu dan kualitas kedepannya. Apalagi, ikan yang digunakan untuk produk makarel dan sarden itu memiliki protein yang sangat tinggi. “Ikan itu memang sangat bagus dan bermanfaat bagi perkembangan gizi dalam tubuh,” jelasnya. Sementara itu, manager marketing CV Pacific Harvest, Sherly mengaku dengan adanya kasus penemuan dari BPOM itu membuat penurunan jual yang sangat signifikan. “Sangat menurun, sehingga banyak karyawan yang dirumahkan,” katanya. Untuk bahan itu sendiri, lanjutnya, dari ekspor dan impor. Bahkan mengambil dari berbagai Negara di luar Negeri. Sehingga, tidak bisa dipastikan produk bahan dari mana yang mengandung parasit cacing itu. “Saya tidak bisa pastikan kalau itu,” cetusnya. Sherly menambahkan, bahwasannya CV Pacific Harvest ini sudah melakukan ekspor dan impor sebanyak kurang lebihnya 58 Negara untuk sarden dan makarel. Memang dari penemuan BPOM itu, mengandung parasit cacing. Namun, itu karena factor alam dan meningkatnya populasi parasit cacing sendiri.  Murni factor alam dan itu jika tidak sengaja dikonsumsi tidak berbahaya,” ungkapnya. Ketua Asosisi Pengalengan Ikan Indonesia (APIKI), Ardy Surya mengatakan, dari 28 perusahaan se-Indonesia memang memproduksi makarel dan pengalengan ikan. Namun, tidak semua produk makarel yang mengandung parasit cacing. Pihak BPOM juga sudah melakukan pemantauan langsung kepada 28 perusahaan tersebut. “Semua perusahaan sudah dilakukan pemantauan secara langsung,” katanya. Pada tahun 2017, lanjutnya, sekitar 80 persen bahan ikan yang digunakan diambil dari luar. Sarden 40.000 ton, sedangkan kapasitas peratahun sekitar 235.000 ton pertahun dari 28 perusahaan seIndonesia. “Ini sudah sangat menurun pada tahun 2017,” ungkapnya. Karena dari lautan selat bali ikan menghilang. Karena itu sudah faktor alam. Jika saja di laut bali, sudah mulai muncul ikan pastinya membuat lebih mudah. “Jadi tidak bisa kita pastikan karena bahan yang diambil itu sesuai dengan musim,” cetusnya. Ardy menambahkan, untuk standart ikan pengalengan proses itu sudah sangat steril. Karena proses dan prosedur yang dilakukan sudah sesuai SOP. Walaupun ada parasit cacing itu pasti sudah mati. “Proses yang dilakukan sudah sesuai SOP, jadi jikapun ada parasit cacaing itu akan mati. Sehingga tidak bahaya jika dikonsumsi oleh masyarakat,” ungkapnya.



Sebarkan :

Ikuti diskusi dan kirim pendapat anda melalui form di bawah ini.



SELASA, 28 SEPTEMBER 2021